Jumat, 22 April 2016

MARTIR


BOOM..!!
“Setaaan…”
“Anjiiingg..!”
Kami berlarian sambil terbahak. Mercon busi buatan Muaz memang yang terbaik, barangkali yang belum bangun sejak sahur, sekarang terjengkang di lantai. Hanya makian yang kami dapat, tak akan ada yang berani main tangan pada anak Rusli, Bapakku. Bukan karena itu saja, juga karena memang kampung kami hanya berisi orang-orang baik.

***
Suara domino diaduk masih terdengar nyaring, juga nada bass para pemainnya. Bapakku tak pernah absen dari meja itu. Ia dan teman-temannya baru saja menyelesaikan rapat warga untuk acara pemilihan Ketua RT. Dengan atau tanpa rapat, malam akan ditutup dengan domino, rokok, dan botol.
Aku senang menunggu Bapak usai bermain, meski tidak demikian dengannya. Mamak, cukup dengan mendelikkan mata, sudah membuatku terkulai di kamar. Aku akan tidur dengan busi berumbai yang dibuatkan oleh Muaz.
Dulu tidak ada yang menjual petasan. Mercon dibuat sendiri oleh aku dan kawan-kawan, sebagaimana Yuk Menik membuat lampu dari lilin dan batok kelapa. Bulan puasa adalah bulan mercon, di mana segala kreativitas berbau ledakan seperti ilmu kanuragan yang dipakai pada saat yang tepat.
Muaz membuatkanku mercon setelah aku dibully—dulu istilah ini belum dikenal—karena merconku terlalu feminin. Aku membuatnya dari potongan papan yang kulubangi dengan paku, lalu lubang itu diisi bubuk fosfor hasil menggerus kepala batang korek api, lalu menutupnya dengan lembar kecil alas gesek yang melekat di sisi kotak korek api itu. Kemudian, berdiri ala kadarnya paku yang ujungnya telah ditumpulkan pada lubang papan tadi. Dengan satu pukulan, ledakan akan terdengar. Tapi itu sangat tidak laki-laki. Ilmu itu aku dapatkan dari Yuk Menik.
Muaz yang kasihan melihat aku menjadi bahan tawa di kelas—Gavin menceritakannya pada seantero sekolah, kemudian menyuruhku mencari busi bekas mobil untuk ia jadikan mercon yang jantan. Dibantu Dodi dan Muhsin, tidak hanya busi, aku bahkan mendapatkan bahan yang lengkap; busi bekas mobil, korek api, karet ban, dan tali rafia.
Malam ini kudengar Bapak masih membahas cerita rapat dengan teman-temannya. Ketua RT lama mendadak sakit, bulan lalu meninggal dunia. Sekarang kelompok domino itu menyiapkan rencana organ tunggal sehari semalam untuk menyambut ketua RT yang baru. Akan ada pesta.
Yang menjadi masalah mereka, saat ini bulan puasa. Suara speaker panggung akan bersaing dengan speaker masjid. Bahwa pada siang hari orang akan berpuasa bukanlah kendala. Di sini kami terbiasa melihat orang lalu lalang sambil merokok dari awal hingga akhir Ramadhan.
Biso diatur. Kagek aku yang lobi pengurus masjid untuk libur tadarus semalam bae. Kito kan menghormati pimpinan kampung. RT lain jugo pasti setuju,” suara Bapak menutup kegaduhan diskusi mereka.
Seharusnya bapakku yang paling pantas menjadi Ketua RT. Semua orang patuh padanya. Ia mampu menyelesaikan masalah antarwarga tanpa keributan. Dan Bapak bukan preman. Ia dituakan karena memang sudah tua. Anak-anaknya hampir semua sudah menikah, hanya tersisa aku dan Yuk Menik di rumah. Kakak-kakak kami membangun rumah sendiri di kanan dan kiri rumah Bapak.
Konon, dulu ketika Bapak datang, Kelurahan Sentosa adalah hutan karet. Entah peninggalan Belanda, atau pribumi yang tak bersisa. Bapak tak tahu baca tulis. Ia hanya mengenal tiga huruf yang diingatnya sebagai masa ketika ia pergi meninggalkan Jawa.
Kala itu, ramai orang menuliskan N, O, dan E di pintu rumah mereka sebagai pernyataan bahwa mereka bukan PKI. Ketika itulah Bapak hijrah, dan hingga kini tak pernah kembali.
Bapak membuka lahan, membangun rumah di atas tanah yang ia kira bukan milik siapa-siapa. Lalu setelah tempat itu ramai dan menjadi perkampungan, barulah utusan Pemerintah Daerah datang, dan menyatakan bahwa tanah yang kami tempati adalah milik pemerintah. Bapak tidak marah, dan tidak pula memprovokasi warga untuk marah. Karena Bapak bukan preman. Ia hanya salah seorang Indonesia yang tak berpendidikan, hingga tak tahu hendak berbuat apa.
Mungkin akhirnya aku terpejam. Hingga terbangun di usia kepala tiga.
Istriku menggeleng haru, salah satu lembar koran lokal di tangannya tertimpa beberapa tetes air mata. Nyaris tembus, hanya tintanya memendar lalu gambar di sisi belakangnya muncul. Mengaburkan berita yang baru dibacanya.
“Itu salah dio dewek,” kataku menghibur.
“Aku yakin polisi salah tembak,” jawabnya.
Dio bukan Muaz kau yang dulu, kecuali memang dio jago membuat mercon!” suaraku agak tinggi. Ning tak menjawab. Istriku menangisi mantan idolanya, wajar kan, jika aku cemburu.
***
Terjadilah pesta itu. Kami berjoget di depan panggung. Biduan asal Payo Lebar meliuk-liuk bersama salah satu kakak laki-lakiku. Bapak di bawah, tertawa-tawa dengan botol dan rokok di tangannya.
Masjid bungkam. Kami sengaja tidak tarawih dan tadarus malam ini, khusus untuk merayakan terpilihnya Ketua RT yang baru. Spesial bagi aku, Dodi, dan Muhsin. Kami merayakan keberhasilan membobol salah satu kelas di sekolah kami—yang tentu saja bukan kelas kami. Botol-botol berisi air yang sedianya dipakai guru untuk mencuci tangan, kami pindahtempatkan ke loak. Uangnya untuk membeli tali rafia dan korek api. Sedang aku berjoget, Muaz asyik menggerusi kepala korek api, memasukkan sebanyak-banyaknya ‘mesiu’ ke lubang busi mobil yang tadi siang kudapatkan.
Dodi menyisir rumbai rafia mercon businya saat memanggilku. Muhsin ada bersamaku, kami berdua penyuka dangdut. Muaz masih asyik di sisi panggung. Meski speaker tepat di atas kepalanya, ia masih konsentrasi pada senjata dan amunisi yang tengah dipersiapkan.
“Sudahlah joget, tu. Kito kalahin suaro spiker ni!”
Aku dan Muhsin terkekeh mendengar celoteh Dodi. Muaz mengacungkan ibu jarinya, tanda setuju.
Aku pun menyudahi. Kami berempat sedikit menjauh dari keramaian.
Ternyata Dodi dan Muaz telah memenuhi busi mereka dengan fosfor, lengkap dengan kertas belerangnya. Tinggal aku dan Muhsin yang baru akan melakukannya sekarang.
Kito adu kuat,” tantang Muaz pada Dodi.
“Pasti kaulah yang menang. Aku ngisi limo batang bae sudah capek, kau setengah kotak.”
Kami semua terbahak. Tidak ada yang bisa mengalahkan Muaz seumur hidup kami. Ia paling jenius dan paling tampan di antara kami. Itulah sebab Ning terus memandanginya sejak aku di atas panggung. Aku memandanginya, dan ia memandangi sahabatku. Cinta monyet, sebelah tangan pula.
Biak kuat ledakannyo, kertas alas tu yang tipis bae. Karton dalamnyo jangan ikut.” Muaz mengajariku yang baru saja tuntas mengisi lubang busi. Kertas yang ia maksud kusobek perlahan dari permukaan gesek di sisi kotak korek api, dan meletakkannya perlahan pula di atas bubuk fosfor.
Dodi yang menunggui kami tanpa sengaja menemukan sebuah busi bekas motor di pinggir jalan. Segera ia memberikan benda itu pada Muaz. Tapi Muaz menolaknya.
Kecik, bunyinyo kayak mercon kayu Arif,” katanya. Aku tersenyum kecut di antara ledakan tawa mereka.
Pada busi mobil, Muaz akan dengan tangkas mengeluarkan elektroda dan besi kecil serupa huruf L di atasnya. Ke mana-mana penjahat kecil itu membawa tang. Tak aneh, bapaknya seorang kuli bangunan.
Canda tawa kami mengalir selama proses persiapan mercon. Yuk Menik, Ning, dan anak-anak perempuan aneka usia melintas dengan lilin kecil warna warni yang mereka letakkan di dalam tempurung kelapa kering yang dimiringkan. Lagi-lagi, aku memandangi Ning, dan ia memandangi Muaz.
Satu ledakan menggema tepat di belakang Ning. Dodi tertawa melihat anak-anak perempuan itu berlari menyelamatkan diri. Mereka tahu kami tengah bermain mercon busi. Bukan ledakannya yang mereka khawatirkan, tapi apa jadinya jika tertimpa.
Tapi hanya Dodi yang tertawa. Aku, Muhsin, dan Muaz menatapnya jengkel.
“Sekali lagi kau lempar dekat orang lewat, aku buang semua busi kau. Kami dak mau tanggung jawab kalau ado yang pecah kepalanyo,” Muaz menggeram. Dodi terdiam.
Kemudian giliranku melempar busi. Kupikir Ning berada tak jauh dari sana, aku berharap merconku tak memalukan.
Benda sakti itu terbang ke langit dengan ketinggian yang sudah kuperkirakan. Kemudian ia berbalik mengikuti hukum fisika. Rumbai ekornya memastikan busi tak oleng saat mendarat.
BLARR!!
Di luar dugaanku, orang-orang bertepuk tangan. Tidak ada Ning di sana, tapi kawan-kawan Bapak ternyata dari tadi memperhatikan kami. Aku bangga sekali.
Tapi sebentar kemudian, sebuah ide gila merusak pameranku. Dodi yang mengusulkan, dan entah kenapa kami menyetujuinya. Aku, Muaz, Muhsin, dan Dodi melemparkan busi yang telah diisi ulang secara bersamaan. Tahulah dunia apa yang kemudian terjadi. Panggung bergetar, orang-orang yang semula kagum, seketika berubah menjadi benci.
Aku dan kawan-kawanku berlari terengah-engah menghindari amukan orang-orang tua. Mercon kami menjelma menjadi bom dahsyat yang membuat orang-orang panik sejenak, lalu mengamuk karena terkejut setengah mati.
Kami tidak berlari sambil tertawa—seperti biasanya, tapi benar-benar dalam kepanikan. Dan entah kapan terpisahnya, masing-masing kami tahu-tahu mendapati dirinya sendirian tak jauh dari rumah.
Aku hanya mendapatkan bentakan remeh dari salah seorang kakak laki-lakiku. Bapak masih di panggung, Mamak tak tahu cerita. Hingga pagi aku selamat. Itulah keutamaan menjadi anak bungsu dari sekian banyak saudara.
Besoknya di sekolah, Dodi membawa pipi merahnya ke kelas. Kami berempat sekelas, karena memang hanya ada satu kelas pada masing-masing tingkat. Sedang Muhsin memamerkan lingkaran biru kehitaman di pinggangnya.
“Kau diapokan, Rif?” tanya Muhsin padaku.
“Aku ni anak kesayangan. Dak mungkin dipukul,” kuangkat kerah baju, kesombongan khas anak muda.
Hari itu, hingga jam pulang, kami tak mendapati kehadiran Muaz.
***
Densus 88 menembak terduga teroris di Jambi. Abu Hakim, alias Muaz, berhasil dilumpuhkan atas informasi masyarakat yang mencurigai kegiatan tersangka beserta kelompoknya.
Sekarang kebanggaan itu datang lagi, meski namaku hanya disebut ‘masyarakat’. Muaz bukan lagi ketua kelompok kami, ia telah menjelma sebagai kepala penjahat yang membunuhi orang-orang dengan keahlian membuat merconnya.
Meski aku bukan orang baik, tapi aku masih mencintai negara ini. Aku tak butuh fanatisme agama hingga harus turun ke jalan-jalan meneriakkan kemerdekaan untuk Palestina atau menolak kudeta Mesir. Apalagi harus melayangkan nyawa orang lain atas nama jihad.
Aku dan Dodi telah cukup memperjuangkan kehidupan kami hingga bisa memenangkan kompetisi yang mahatinggi sebagai pemenang; menjadi PNS. Berbeda dengan Muhsin yang sampai sekarang masih melajang karena ia hanya tukang ojek.
Sejak dulu keluarga Muhsin memang tergolong keluarga tak mampu, hingga mereka tak pernah tertarik pada bursa kepegawainegerian yang sering menjadi bahasan forum ibu-ibu belanja di warung orangtua Dodi. Berbeda dengan Bapak yang terus mengikuti perkembangan kisaran angka pada bursa itu. Bagiku Bapak adalah sebenar-benar pahlawan. Ia bekerja keras untuk memperbaiki keadaan keluarga. Ia menabung sepanjang hidup untuk memuluskan langkahku pada posisi sekarang. Karena Bapak tahu, nilai sekolahku tak menjanjikan untuk menjadi pegawai pemerintah dengan cara yang normal.
Bapak juga pemimpin terbaik di kampung kami, yang berhasil menyatukan kepentingan masjid dan meja domino. Yang selalu bisa membuat organ tunggal bermalam-malam tanpa keonaran, dan sabung ayam tanpa penggerebekan.  Sayang, Bapak yang sampai sekarang masih hidup tak bisa mendengar berita baik akan kepahlawananku. Sekarang pahlawan tua itu hidup seperti kayu. Rapuh, setengah tuli, penglihatannya kabur, hanya bisa duduk lalu terbaring kembali.
Ibu meninggal sepuluh tahun lalu, mewariskan pahlawan kayu pada anak-anaknya. Berdasarkan hasil rembuk kakak-adik, Bapak ditempatkan di rumahku. Karena memang aku yang paling menyayanginya, sebagaimana akulah anak kesayangannya.
***
Kali pertama aku melihat Muaz menangis. Idul Fitri seharusnya menjadi momen bahagia, tapi kami berempat banjir air mata. Sungguh ngeri hukuman yang diterima Muaz. Lebih dari sekadar ditampar seperti Dodi, atau dicubit layaknya Muhsin. Muaz dikeluarkan dari sekolah. Ia diambil paksa dari kami.
Aku ingat wajah orang tua itu. Ia yang berusaha tersenyum ramah, tapi terasa menjijikkan di mata kanak-kanakku. Orang itulah yang kemudian menjadikan Muaz sebagai teroris.
***
“Aku ini kawan baik Muaz.” Kusentuh lembut bahu Ning. Sisi baikku mengajari agar memperlakukan perempuan ini dengan baik. Bagaimana tidak, ia telah memperlakukan Bapak layaknya ayah kandung.
Ning merawat Bapak tanpa rasa jijik, dan selalu bersabar menghadapiku. Satu-satunya kesalahan Ning adalah selalu membela Muaz di depanku.
“Muaz cuma preman kecik. Tapi itu dulu. Sekarang dio musuh negara. Dulu Muaz bikin mercon untuk sekadar senang-senang, sekarang dio bikin bom untuk bunuh semua orang.” Kutatap lekat mata Ning, mengharap pengertiannya.
“Abang tahu dari mano? Abang ado tengok dio bikin bom?” Ning menjawab dengan lembut. Tapi terasa tajam di dadaku.
Ado apo antara kalian, Dek? Apo istimewanyo Muaz? Dio cuma pacar lamo, dak patut Adek puja-puja dio di depan suami,” suaraku masih lunak.
Ning tertawa pelan. “Kami dak pernah pacaran, Bang. Anak SD zaman kito dulu manolah kenal pacar. Aku cuma dak percayo Muaz sejahat itu. Keluarganyo pun masih ado di sini, baik semua, samolah seperti keluarga Abang.”
“Rif…, “ Bapak memanggil.
Aku urung berdebat dengan Ning. Bapak jelas menyelamatkanku. Meski telah puluhan kali aku melihat Muaz membuat mercon, sekalipun tak pernah kulihat ia merakit bom. Tapi firasatku mengatakan demikian, bukankah kesenangan masa kecil merupakan petunjuk minat dan bakat seseorang. Belum lagi berita dari berbagai media yang memang menunjukkan bagaimana kawanan orang serupa Muaz yang memanfaatkan kecerdasannya untuk melukai orang lain.
Kadang aku terkenang masa ketika di sekolah dulu, guru-guru lebih menyukai anak pintar yang nakal ketimbang anak pendiam yang bodoh. Padahal makin pintar seseorang, makin ia berbahaya jika moralnya tidak benar.
Bertahun-tahun aku tak bertemu Muaz, mana aku tahu ia membuat bom seperti apa di mana. Sekarang ia pulang, datang ke kampung kami dan berulah seperti pamannya dulu. Yang aku tahu, dan aku yakini, aturan agama tidak akan berseberangan dengan aturan masyarakat yang normal. Aku beragama secara sederhana, mengikuti yang biasa dilakukan orangtua dan tetangga. Jika makin taat makin berbahaya, biarlah aku mati dalam kedangkalan amal saja.
Bapak menyambut kedatanganku, tangannya terulur meminta bantuan untuk duduk. Ning tidak mengikutiku karena merasa tidak dipanggil. Bukan karena tak ingin membantu, itulah kelebihan Ning berikutnya. Ia sangat menghargai privasi antara anak dan bapak, tak pernah ia nimbrung pada diskusi kami tanpa diminta. Dan tak sekalipun ia menolak keputusanku untuk membantu Bapak, Mamak, ataupun kakak-kakakku, meski tanpa meminta pendapatnya.
Kali ini pun demikian. Ning tetap di kamar, pada posisi di mana tadi kami berbincang. Ia mengira Bapak akan meminta sesuatu, atau mengajakku ngobrol seperti yang sering kami lakukan. Ternyata Ning keliru, Bapak hanya ingin aku duduk di sampingnya.
Bapak bersandar pada bantal, diam dalam duduknya. Setelah bermenit-menit demikian, perlahan ia menoleh padaku, “Bacokan Bapak Alquran…”
Sampai larut malam, aku dan Ning mencari Alquran kami. Hingga Bapak tertidur, benda itu tak ditemukan.
**
Muaz dimasukkan ke pesantren!
Aku mengomel tanpa hasil, “Memangnyo Muaz tu bandit, harus dipindah ke pesantren!”
“Kau kulaporin ke bapak Muaz, bilang anaknyo bandit,” Gavin menyela dengan sifat khasnya.
“Pesantren bukan untuk bandit, Rif. Tapi untuk yang mau belajar agama. Abang aku ado yang sekolah di pesantren jugo.” Muhsin beranjak dari mejanya, duduk di sebelahku.
Suasana kelas cukup hening. Kami semua menyadari akan kehilangan satu teman kebanggaan. Muaz bukan hanya tenar di lingkungan rumah, tapi juga di sekolah. Karena memang kawanan rumah dan sekolah adalah orang yang itu-itu juga.
“Berarti abang kau bandit, Sin. Setahu aku pesantren memang untuk orang jahat, supayo jadi baik.” Gavin harus menyalahkan mulutnya kali ini. Kami yang sudah muak pada kebiasaan buruknya, sepakat memberi pelajaran berharga.
Separuh anak laki-laki di kelas menghajar Gavin tanpa ampun. Besoknya ia tak sekolah karena sakit, lusa kemudian kami dihukum beramai-ramai atas laporan orangtua Gavin.
Sebelumnya tak pernah ada keributan di kelas, sebagaimana di kampung kami nyaris tak pernah terjadi keonaran. Sampai kemudian, seseorang yang diperkenalkan bapak Muaz sebagai adik iparnya, mengusik ketenangan kampung dengan upayanya membubarkan meja domino Bapak.
***
Rumahku memang tak pernah sepi. Bulan puasa, Lebaran, bulan haji, atau hari tanpa embel-embel apa pun, sama saja. Usai TVRI menayangkan Dunia dalam Berita, para kepala keluarga akan berkumpul di samping rumahku, duduk mengitari meja, lalu menyusun domino.
Tidak akan ada yang peduli jika salah satu dari mereka kemudian mabuk lalu dimaki-maki istri saat pulang. Jika ada yang uangnya ludes karena kalah, yang lain akan dengan senang hati meminjamkan. Bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun, itu terjadi.
Kampung kami hanya berisi orang-orang baik, kecuali setelah paman Muaz datang. Pada sepuluh hari terakhir bulan puasa, laki-laki itu muncul bertepatan dengan tragedi ledakan empat mercon. Tak ada yang peduli padanya, kecuali aku yang benci setengah mati karena Muaz mengatakan pamannyalah yang meminta orangtua Muaz menitipkan anak mereka padanya.
Paman Muaz tinggal di masjid bersama teman-temannya. Setelah usai tarawih, mereka memberi ceramah pada hadirin yang sudah sangat menipis. Kadang-kadang hanya tersisa mereka saja.
Tak cukup memberi ceramah di masjid, paman Muaz malah nekat mendatangi rumahku untuk membubarkan keramaian yang telah bertahun-tahun dimaklumi semua orang. Maka tak hanya peserta domino yang menentangnya, yang sedang tidur pun bangun untuk menghalau para pengacau itu.
Masih kuingat bagaimana Ketua RT yang baru saja terpilih, mengusir mereka dari masjid.
“Kalian sudah diberi tempat di masjid kami. Kami persilakan solat dan ceramah di sana.” Dikasih hati minta jantung! Dulu aku tak paham ungkapan terakhir pemimpin kampung itu. Kemudian ia mendatangi masjid, membuang barang-barang milik paman Muaz dan teman-temannya. Mengusir mereka malam itu juga.
Siapa yang kemudian meredamkan suasana? Tentu bapakku.
Bapak yang mengangkati barang-barang para musafir itu, kembali ke masjid. “Kalian datang baik-baik, pergilah dengan cara yang baik. Sampai Lebaran tetaplah di sini, tapi setelah itu mungkin lebih baik cari tempat yang lain.” Bapak mengucapkannya dengan nada yang lunak, di antara naik turun bahu Ketua RT yang sedang mempertontonkan aksi heroiknya.
Hebatnya lagi, setelah hari itu, rumah kami sengaja dibuat sepi oleh Bapak. Meja domino diliburkan sampai Lebaran, demi menghormati tamu kampung yang tak suka pada kebiasaan tuan rumah.
Setelah Lebaran, seperginya Muaz bersama pamannya, keramaian rumahku kembali seperti sedia kala. Kegembiraanku hanya setitik dibanding lautan kesedihanku atas kepergian Muaz.
Aku menandai kepergiannya pada mejaku di kelas. Dengan sudut penggaris besi, kuserut pinggiran meja dengan kalimat, 23 Maret 1994, Muaz pergi….
***  
Hiruk pikuk terdengar di halaman rumah, Bapak pun dapat mendengarnya saking riuh suasana itu. Ning tergopoh-gopoh ke luar. Aku hanya mengintip dari jendela. Sejak Bapak tak lagi bisa keluar rumah, aku tak tahu banyak tentang apa saja yang terjadi di luar.
“Rif, ayo ikut!” Muhsin menggedor pintu rumahku.
“Yang tadi malam dibahas Bang Aziz,” bisik Ning.
Aku terkekeh pelan. Semalam anak laki-laki pertama Bapak, yang juga tetanggaku, datang menemui kami. Ia mengundangku untuk ikut aksi unjuk rasa ke Gubernuran, menolak keputusan pemerintah yang akan menggusur warga Kelurahan Sentosa yang tak bersertifikat.
Aku menggiring Ning ke kamar, membuka salah satu pintu bufet kecil pemberian almarhumah Mamak. Di dalamnya tersimpan barang-barang kesayanganku yang kularang Ning menyentuhnya.
Di bawah tumpukan keping CD dan kaset PS, sebuah ruang kecil tersamar oleh alas bufet. Semacam ruang bawah lemari yang tutupnya tak berbeda dengan dasar lemari di sisi lain. Aku menarik gagangnya yang berupa potongan kayu kecil. Di dalamnya, tergeletak aman hasil keringatku yang tak pernah diketahui orang lain, selain Bapak.
Dahi Ning berkerut memandangi sertifikat tanah di tanganku. Perlahan dibukanya, ia mengerti tapi tak mampu berkata-kata.
“Abang dak perlu ikut demo. Kito dak akan digusur, tanah ini sudah Abang beli ke pemerintah. Sertifikat ini sah!” kuucapkan dengan penuh kebanggaan.
“Kok biso?”
“Memang biso. Itu kebijakan Pemerintah Daerah, Abang ini pegawai pemerintah, Abang lihat surat edarannyo di kantor Setda, sudah bertahun-tahun lalu, sebelum kito nikah. Semua warga lamo dapat hak beli dengan harga yang dak terlalu mahal dari pemerintah, tapi cuma Abang yang bayar, atas namo Bapak. Terus Abang buat surat jual beli antara Bapak dan Abang, jadilah sertifikat ini.”
“Ayah aku jugo orang lamo, Bang. Tapi kami dak tahu informasi itu, kami dak pernah lihat surat yang Abang bilang.”
“Abang jugo dak ngerti, mungkin ado yang tutupi informasi dari warga. Itu tugas Kelurahan, bukan tugas Abang. Sudahlah, yang penting kito sudah aman.”
Suara Muhsin masih terdengar di muka pintu. Ning bergeming di hadapanku.
Kuambil kembali sertifikat di tangan Ning, menyimpannya ke tempat semula. Inilah pelajaran berharga untuk istriku tercinta. Baik berdiam demi keselamatan diri, daripada runtuh beramai-ramai, lebih baik selamat sendiri.
Aku tidak akan ikut melakukan aksi unjuk rasa bersama warga, sama sekali tak perlu. Ning memandangku salah karena tak mengabarkan yang kutahu pada para tetangga. Apa gunanya? Jika yang berwenang saja menyembunyikan informasi itu, siapalah aku yang hendak jadi pahlawan.
Seumur hidup aku mengambil pelajaran. Aku tak sebaik Bapak yang mampu melerai yang bertikai, menenangkan yang kalut, atau membuka jalan bagi yang buntu pikiran. Maka sebaiknya aku pun tak usah ambil pusing pada urusan lain. Kesalahan fatal yang diperbuat Muaz pun menjadi peringatan. Bagaimana ia harus kehilangan nyawa akibat terlalu peduli. Apa urusannya mengajak orang ke masjid, apa gunanya melarang orang judi dan mesum. Toh surga neraka urusan Tuhan. Keusilan membuatnya berpikir terlalu jauh, membunuh karena merasa tak didengar. Dan semua itu harus ia bayar dengan nyawa. Sekarang bagaimana nasib istrinya? Bagaimana sekolah anaknya? Sebagai kawan aku sungguh turut menyesalkan jalan hidup Muaz.
Ning memandangiku yang tengah mendekati pintu. Muhsin makin kencang berteriak, baru terdiam saat pintu kubuka.

“Maaf, aku tak enak badan,” kataku, lalu menutup pintu kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar